Natal, Sapaan di Tengah Kegamangan

Oleh: Ev. Manati I. Zega, S.Th., MA *

Kebingungan melanda dunia saat ini. Kepastian masa depan kian dipertanyakan. Akankah Natal membawa secercah harapan?

Natal, aha inilah yang dinantikan umat Kristen sedunia. Sebenarnya bukan hanya yang kristiani, namun pelaku bisnis musiman pun menantikan bulan Natal itu. Seorang rekan yang pernah tinggal sepuluh tahun di Singapura berkisah bahwa nuansa Natal begitu kentara di negara itu sejak akhir November. Pernak-pernik Natal mudah ditemui di pusat-pusat perbelanjaan. Di Indonesia pun hampir sama. Sejak awal Desember, toko-toko telah ramai dengan beragam aksesori Natal. Tentu, hal semacam itu sah-sah saja. Bukankah tidak ada larangan untuk bersukacita menyambut Natal? Tuhan pun tidak melarang siapa pun untuk bergembira menyambut kelahiran-Nya.

Akan tetapi, kita diperhadapkan dengan keprihatinan sosial di sekitar kita? Memang bersukacita itu penting. Namun, pernahkah memikirkan kondisi masyarakat yang serba tidak pasti. Mengawali bulan terakhir di tahun 2009 ini, banyak persoalan di sekeliling kita. Perseteruan KPK dengan POLRI. Kasus ini menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap penegak hukum. Kasus Bank Century yang masih diproses Pansus DPR. Hal ini menambah deretan kegelisahan. Belum lagi masalah perceraian yang persentasenya meningkat tajam. Akibatnya anak-anak mengalami keterpecahan jiwa. Bahkan tidak sedikit yang meragukan kasih Tuhan karena orangtua yang harus berpisah. Hal lain yang tak kalah penting adalah rumor kiamat 2012. Kontroversi film layar lebar karya Roland Emmerich ini terjadi di berbagai tempat. Termasuk di negeri kita. Fenomena bencana alam pun tidak luput dari perhatian masyarakat. Lagi-lagi tekanan demi tekanan tampaknya enggan meninggalkan umat manusia.

MENILIK SEJARAH

Sejenak kita menilik sejarah sebagai pembanding. Tatkala Natal pertama tiba, umat dalam keadaan tertekan. Ada apa gerangan? Mereka berada di bawah cengkeraman tirani Romawi. Penguasa menyebar kekerasan, kesewenangan, penderitaan yang berujung pada kemiskinan. Singkatnya, ketidakpastian melanda umat kala itu.

Keadaan diperparah lagi oleh kondisi umat yang memberontak kepada Tuhan. Masa intertestamental—masa antar Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB), Tuhan tidak mengutus seorang nabi pun untuk berbicara kepada umat. Sekitar 400 tahun masa diam antar PL dan PB inilah masa-masa yang penuh ketidakpastian.

Akan tetapi, dalam kondisi sunyi ini terjadilah surprise lewat inkarnasi atau Natal. Kemilau cahaya pengharapan menembus kehampaan manusia. Allah tidak tinggal di belakang langit biru lalu menonton penderitaan manusia. Natal memecah keputusasaan itu dengan secercah pengharapan baru. Kelahiran Kristus, bagi orang Kristen merupakan berita sukacita. Maksudnya, berita kelegaan bagi mereka yang terkungkung secara sosial, politik, bahkan psikologis selama ini. Natal tiba, pertanda masih ada harapan bagi manusia.

Fakta membuktikan! Kegamangan melanda umat manusia sepanjang lintasan sejarah. Gamang adalah perasaan takut, was-was, kehilangan keseimbangan ketika berada pada ketinggian. Andaikan manusia punya sayap dan terbang tinggi. Dari ketinggian terlihatlah betapa ngerinya dunia kita. Menakutkan, kata itu mungkin tepat untuk menggambarkannya. Namun, apakah berhenti pada perasaan takut? Atau, kita terjebak dalam fatalisme sembari berkata manusia tidak dapat berbuat apa-apa. Manusia hanya bisa pasrah sambil menonton apa yang terjadi. Menurut saya, sikap demikian kuranglah tepat. Kita harus berbuat sesuatu agar orang lain di sekitar kita punya pengharapan yang pasti.

TELADAN GEMBALA

Pada zamannya, para gembala adalah warga yang status sosialnya kurang terpandang. Memang di kalangan Yahudi, pekerjaan ini di anggap mulia. Namun, dari sisi sosial mereka hanyalah orang-orang biasa yang kedudukannya tidak terlalu diperhitungkan. Maka dalam pengadilan misalnya, ada catatan yang mengatakan testimoni mereka boleh diabaikan.

Akan tetapi, dalam peristiwa Natal pertama, para gembalalah yang mendengar pertama kali kabar kelahiran Kristus. Berita Natal tidak disampaikan malaikat kepada kaum elit. Lingkaran penguasa istana. Namun, malaikat memilih memberitahukan kepada para gembala. Pertanyaan penting yang harus diajukan adalah apa yang menarik dari para gembala? Tentu, kita sepakat bahwa malaikat tidak salah sasaran. Tidak pula salah alamat.

Belajar dari sejarah, profesi gembala adalah profesi berat yang penuh risiko. Mengapa berkata demikian? Para gembala punya tanggung jawab melindungi domba-domba dari bahaya yang mengancam (Mazmur 23:1-6; Yesaya 40:11). Gembala juga harus memelihara dan merawat dengan hati domba-domba gembalaannya. Dengan kata lain, menjadi gembala harus rela mengesampingkan kepentingan diri sendiri. Tidak berlebihan bila dikatakan bahwa gembala adalah pribadi yang bertanggung jawab.

Tanggung jawab para gembala tampak jelas tatkala berita kelahiran Yesus disampaikan oleh malaikat. Begitu malaikat pembawa berita itu meninggalkan mereka, muncullah tindakan inisiatip. Dokter Lukas menuliskan, “Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.” (Lukas 2:15). Ini sikap tanggung jawab yang luar biasa. Mereka langsung berangkat ke Betlehem untuk menyaksikan secara langsung apa yang sedang terjadi. Rupanya para gembala adalah pribadi yang tak melalaikan tanggung jawabnya. Sebuah sikap positip yang pantas ditiru.

Implikasi dari sikap ini dalam kehidupan sehari-hari adalah kita perlu menjadi gembala di komunitas masing-masing. Kehadiran kita adalah memelihara dan mengayomi yang lemah. Bukan sebalik. Bukan menghabisi dan mengintimidasi. Sementara kita akan merayakan Natal, kiranya tanggung jawab sebagai gemba menjadi perhatian berasama. Suami kiranya menjadi gembala yang memelihara keluarganya. Bukan sebaliknya, menghancurkan, atau menceraikan pasangan hidupnya. Pemerintah wajib memelihara dan mengayomi warganya. Bukan sebaliknya mengintimidasi dengan sikap-sikap yang arogan.

Tahun 2009 ini, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) mengusung pesan Natal “Tuhan itu Baik Kepada Semua Orang…” (Mazmur 145:9a). Melaluinya umat kristiani di Indonesia dapat menjadi agen pembawa pengharapan. Umat kristiani bersama umat beragama lain bersama-sama merencanakan hari esok yang lebih baik, bagi manusia dan bumi yang kita tinggali ini. Bukan saatnya menebar permusuhan karena permusuhan hanya memicu problema baru. Kini saatnya maju bersama demi kesejahteraan umat manusia. Jadilah agen perubahan, agen penenang di tengah kegamangan zaman. Kiranya Tuhan memampukan kita menunaikan niat tulus ini. Selamat merayakan Natal.

_________

* Penulis, dididik dan dibesar dalam pelayanan Banua Niha Keriso Protestan (BNKP). Seorang rohaniwan dan penulis buku. Selain berkhotbah dan mengajar, kini penulis menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Rohani Nasional BAHANA. Tinggal dan melayani di Yogyakarta, Jawa Tengah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s