Refleksi di Awal Tahun 2010

Memaksa Allah

Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja

(Daniel 3:17)

Oleh:
Ev. Manati I. Zega, S.Th., MA.*

Baca: Daniel 3:1-30

Awal tahun ini, tepatnya Januari 2010, Eni Juner berusia 24 tahun meninggal dunia. Eni meninggal setelah menjalani ritual bertapa selama 40 hari di rumah kontrakannya di Durikosambi, Cengkareng, Jakarta Barat. Seperti diberitakan Kompas 10 Januari 2010, Eni bersama ketiga rekannya melayani sebagai pendoa orang sakit. Mereka telah melakukan ritual itu sejak awal Desember 2009. Kelompok ini menuntut diri makan dan mandi sekali sehari dimulai pukul 03.00 WIB dini hari. Karena tidak kuat Eni akhirnya meninggal. Tepat 5 Januari 2010, Eni menghembuskan nafas terakhir. Kemungkinan karena tidak kuat menjalani ritual itu. Anehnya, setelah meninggal jenazah Eni tidak langsung dimakamkan. Jenazah terus disimpan di rumah kontrakan hingga lima hari. Mereka yakin bila didoakan terus setiap hari, pada hari kelima Eni akan dibangkitkan. Peristiwa ini amat memalukan karena berulang kali ditulis di surat kabar. Selain itu, TV swasta nasional pun menyiarkan peristiwa ini berkali-kali.

Sadrakh, Mesakh, dan Abednego mengalami pergumulan iman yang hebat. Pergumulan ini menyangkut hidup dan mati. Nebukadnezar bertitah seluruh negeri harus menyembah patung emas buatan tangannya. Titah itu sangatlah tegas. Bukan main-main. Dan, bahwa siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala (ay. 11). Mengerikan bukan? Namun, sikap ketiga anak Tuhan ini sangat bijaksana. Mereka tidak memaksa Allah melakukan sesuatu bagi mereka. Dengan rendah hati mereka mengatakan,Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja, tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” (ay. 17-18). Jelaslah mereka menyerahkan kepada kedaulatan Allah. Mereka sadar bahwa mereka tidak punya jasa apa pun untuk memaksa Tuhan.

Pelayan dan hamba Tuhan, kiranya tetap waspada dan meluruskan teologi ekstrem dalam jemaat. Sering kali orang mengklaim beriman, tapi sebenarnya memaksa. Iman bukanlah sarana pemaksaan kehendak. Siapa pun kita, tidak ada alasan untuk memaksa Tuhan. Memang iman itu penting dan harus beriman. Namun, iman dalam arti terjadinya mukjizat tidak boleh dilepaskan dari kedaulatan Allah. Dialah yang menentukan! Bukan kita demi alasan iman. Semoga kita memiliki iman yang alkitabiah. Amin!

Kita Tidak Boleh Memaksa Tuhan Demi Alasan Iman.

_______
* Penulis, seorang rohaniwan, pengajar, penulis, dan jurnalis. Tinggal dan melayani di Yogyakarta-Jawa Tengah. Dididik dan dibesarkan dalam lingkungan BNKP distrik Awa´ai Nias.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s