Category Archives: Renungan

Renungan dari nats Alkitab

Teologi Perasaan

Satu-satunya yang saya inginkan ialah supaya saya mengenal Kristus, dan mengalami kuasa yang menghidupkan Dia dari kematian. Saya ingin turut menderita dengan Dia dan menjadi sama seperti Dia dalam hal kematian-Nya. (Filipi 3:10—BIS).

Oleh: Ev. Manati Zega, MA*

Filipi 3:1—15

“Dalam kebaktian tadi, saya merasakan Tuhan hadir,” kata seorang penatua yang mendampingi saya dalam suatu pelayanan. Masih di hari yang sama, seseorang berkata, “Luar biasa, saya merasakan Tuhan itu dahsyat.” Ya, tentu yang dikatakan oleh kedua orang saudara ini tidak salah. Bisa saja merasakan kehadiran Tuhan dalam suatu acara atau kebaktian tertentu. Namun, kita perlu berhati-hati. Pasalnya, apa yang kita rasakan bisa bersifat subjektif. Tergantung siapa yang merasakannya. Memang hal-hal yang supranatural bisa dialami oleh siapa pun. Namun pengalaman terhebat sekalipun tidak dapat mewakili pengenalan kita akan Tuhan. Pengenalan dan pergaulan kepada Tuhan menjadi hal mendasar dalam iman Kristen.

Paulus adalah seorang rasul yang mengalami beragam pengalaman spektakuler. Katakanlah berbagai mukjizat telah ia rasakan. Namun hal itu tidak dapat menggantikan hal mendasar dalam kehidupan imannya. Hal yang mendasar itu adalah pengenalan yang sejati akan Tuhan. Paulus berkata, “Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,” (ay. 10—TB). Dalam surat-suratnya, Paulus berterus terang bahwa yang terutama dalam dirinya adalah pengenalan akan Tuhan yang sejati. Bagaimana mengenal Tuhan yang sejati itu? Pastinya bukan hanya dari pengalaman pribadi yang unik. Namun Paulus mengenal Tuhan melalui firman Tuhan yang ia jadikan otoritas tertinggi. Pengenalan akan firman adalah hal utama dalam pengenalan akan Tuhan. Sukar untuk mengenal Tuhan dengan tepat tanpa pengenalan firman Tuhan yang benar. Mengapa demikian? Karena hanya firman Tuhanlah yang mampu menuntun kita dalam pengenalan akan firman-Nya. Firman itu adalah Allah (Yoh. 1:1).

Mari dengan kerendahan hati mencari dan menggali pengenalan kita akan Tuhan. Pengenalan yang dibangun atas firman. Pengenalan yang bertumpu atas firman yang benar. Bukan berdasarkan perasaan semata. Perasaan memang perlu namun bukan yang utama. Setiap orang memiliki perasaan yang berbeda terhadap sesuatu pada saat tertentu. Karena itu, alangkah indahnya bila seluruh teologi kita dibangun atas firman saja. Seperti Martin Luther serukan, “sola criptura”, hanya karena firman Tuhan saja, bukan atas perasaan atau pengalaman pribadi. Selamat bergelut mendalami firman-Nya!

Hanya Alkitab Pusat Segala Teologi dan Praktik Iman

__________

* Penulis seorang rohaniwan dan jurnalis. Tinggal dan melayani di Yogyakarta–Jawa Tengah.

Kobarkan Api Pelayanan !!!

Ev. Manati I. Zega, STh

Kobarkan Api Pelayanan

Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan (Roma 12:11).

Oleh: Ev. Manati I Zega, MA

Baca: Roma 12:1-21

Pada tahun 109 M, dibangunlah sebuah terowongan air raksasa di Spanyol. Terowongan ini berfungsi mengalirkan air segar dari pegunungan untuk memenuhi kebutuhan air warga kota. Siang—malam terowongan itu tak berhenti menyalurkan air bersihnya demi kepentingan warga. Konon katanya, selama delapan belas abad terowongan tersebut telah melayani masyarakat tanpa kenal lelah. Namun suatu saat generasi berikutnya berpikir bahwa terowongan air itu terlalu tua. Perlu diganti dengan yang baru. Maka mereka menggantinya dengan pipa yang disalurkan ke rumah-rumah penduduk. Di satu sisi penggunaan pipa makin memudahkan warga. Namun di sisi lain telah menciptakan masalah baru. Terowongan air yang telah melayani 60 generasi itu menjadi rusak karena tidak lagi mengalirkan air. Ia telah berhenti melayani. Kini terowongan itu hanya menjadi museum yang meninggalkan berbagai kisah dan sejarah. Kondisinya kini menjadi rusak dan merosot.

Kisah di atas sebuah gambaran tentang apa yang akan terjadi bila seseorang berhenti melayani Tuhan. Kondisi iman dan rohaninya bisa merosot bak kisah dari terowongan air tersebut. Karena itulah Paulus mengungkapkan pentingnya roh yang menyala-nyala. Menyala-nyala dalam melayani Tuhan dan pekerjaan-Nya. Bila semangat dalam melayani menjadi kendor, bisa-bisa kehidupan iman dan rohani kita menjadi loyo. Dengan melayani Tuhan sebenarnya kita sedang memberi pupuk bagi iman dan kehidupan rohani kita. Sebaliknya kendor dalam melayani berarti kita sedang mencabut vitamin yang sangat diperlukan bagi pertumbuhan iman kita.

Melayani adalah harga mati bagi setiap orang percaya. Terlalu banyak anugerah Allah yang setiap saat kita nikmati. Terlalu banyak kebaikan-Nya yang dilimpahkan kepada kita. Maka sebagai anak Tuhan, memberi diri untuk melayani-Nya menjadi tanggung jawab kita. Kita dipanggil keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib. Tujuannya adalah untuk memberitakan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib. Perbuatan kasih-Nya yang juga diwartakan kepada orang lain. Karena itu setialah melayani.

Jangan Padamkan Api Pelayanan

______________

* Penulis seorang rohaniwan dan jurnalis. Tinggal di Yogyakarta-Jawa Tengah

Refleksi di Awal Tahun 2010

Memaksa Allah

Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja

(Daniel 3:17)

Oleh:
Ev. Manati I. Zega, S.Th., MA.*

Baca: Daniel 3:1-30

Awal tahun ini, tepatnya Januari 2010, Eni Juner berusia 24 tahun meninggal dunia. Eni meninggal setelah menjalani ritual bertapa selama 40 hari di rumah kontrakannya di Durikosambi, Cengkareng, Jakarta Barat. Seperti diberitakan Kompas 10 Januari 2010, Eni bersama ketiga rekannya melayani sebagai pendoa orang sakit. Mereka telah melakukan ritual itu sejak awal Desember 2009. Kelompok ini menuntut diri makan dan mandi sekali sehari dimulai pukul 03.00 WIB dini hari. Karena tidak kuat Eni akhirnya meninggal. Tepat 5 Januari 2010, Eni menghembuskan nafas terakhir. Kemungkinan karena tidak kuat menjalani ritual itu. Anehnya, setelah meninggal jenazah Eni tidak langsung dimakamkan. Jenazah terus disimpan di rumah kontrakan hingga lima hari. Mereka yakin bila didoakan terus setiap hari, pada hari kelima Eni akan dibangkitkan. Peristiwa ini amat memalukan karena berulang kali ditulis di surat kabar. Selain itu, TV swasta nasional pun menyiarkan peristiwa ini berkali-kali.

Sadrakh, Mesakh, dan Abednego mengalami pergumulan iman yang hebat. Pergumulan ini menyangkut hidup dan mati. Nebukadnezar bertitah seluruh negeri harus menyembah patung emas buatan tangannya. Titah itu sangatlah tegas. Bukan main-main. Dan, bahwa siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala (ay. 11). Mengerikan bukan? Namun, sikap ketiga anak Tuhan ini sangat bijaksana. Mereka tidak memaksa Allah melakukan sesuatu bagi mereka. Dengan rendah hati mereka mengatakan,Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja, tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” (ay. 17-18). Jelaslah mereka menyerahkan kepada kedaulatan Allah. Mereka sadar bahwa mereka tidak punya jasa apa pun untuk memaksa Tuhan.

Pelayan dan hamba Tuhan, kiranya tetap waspada dan meluruskan teologi ekstrem dalam jemaat. Sering kali orang mengklaim beriman, tapi sebenarnya memaksa. Iman bukanlah sarana pemaksaan kehendak. Siapa pun kita, tidak ada alasan untuk memaksa Tuhan. Memang iman itu penting dan harus beriman. Namun, iman dalam arti terjadinya mukjizat tidak boleh dilepaskan dari kedaulatan Allah. Dialah yang menentukan! Bukan kita demi alasan iman. Semoga kita memiliki iman yang alkitabiah. Amin!

Kita Tidak Boleh Memaksa Tuhan Demi Alasan Iman.

_______
* Penulis, seorang rohaniwan, pengajar, penulis, dan jurnalis. Tinggal dan melayani di Yogyakarta-Jawa Tengah. Dididik dan dibesarkan dalam lingkungan BNKP distrik Awa´ai Nias.

End of Times

Oleh: Ev. Manati Zega, S.Th.,MA *


Tetapi tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak, dan anak pun tidak, hanya Bapa sendiri. (Matius 24:36)


Baca: Matius 24:29-36


Karya Lawrence E. Joseph dalam buku Kiamat—Investigasi Akhir Zaman, menegaskan dengan mantap bahwa 21 Desember 2012 akan terjadi kiamat yang disebut juga end of times. Kesimpulan ini didasarkan atas penanggalan suku Maya di daratan Amerika. Juga diperkuat dengan penelitian ilmiah yang mengatakan bahwa 21 Desember 2012 adalah titik balik musim dingin tahunan. Ketika itu, belahan bumi utara berada di titik terjauh dari matahari. Akibatnya, siang makin pendek dan malam makin panjang. Bukan hanya itu, diprediksi pula akibat rotasi bumi, maka akan terjadi pergantian posisi antara kutub utara dan kutub selatan. Bagi suku Maya, berdasarkan penanggalan mereka, periode 1992-2012, bumi akan dimurnikan dan akan terjadi suatu zaman yang disebut zaman baru. Kini, masalah kiamat yang dalam istilah Alkitab disebut akhir zaman, marak dibicarakan orang. Bahkan film kiamat 2012 diputar di banyak bioskop di seluruh dunia termasuk Indonesia. Pro kontra terkait film tersebut menggema di mana-mana.


Bagaimana sikap kita sebagai orang Kristen? Apakah kita ikut-ikutan gelisah? Panik? Firman Tuhan di atas sebaiknya kita jadikan bahan refleksi. Sangat tegas Tuhan berkata bahwa tidak ada seorang pun yang tahu kapan akhir zaman itu terjadi. Kapankah tepatnya Tuhan Yesus akan datang kedua kali? Bila kita berbicara masalah waktu, firman Tuhan berkata jelas. Tidak ada seorang pun yang diberi tanggung jawab untuk menghitung dengan tepat kapankah peristiwa itu melanda planet bumi ini (ay. 36). Allah dalam kedaulatan-Nya tidak pernah memerintahkan siapa pun dan suku mana pun untuk menghitung hari kiamat. Kiamat atau akhir zaman adalah urusan Tuhan, bukan urusan manusia.


Lalu, bagaimana sikap kita terhadap berbagai pemberitaan yang ada disekeliling kita? Tentu, kita ambil sisi positifnya saja. Berita tentang kiamat 2012, sebaiknya dijadikan peringatan untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan. Bila kita dekat dengan Tuhan, kapan pun terjadi kiamat atau akhir zaman bukan masalah serius. Mengapa? Karena kita tahu persis ke mana tujuan kita. Tujuan kita sudah sangat jelas. Apa pun yang terjadi, kita pasti dalam perlindungan dan pemeliharaan-Nya. Maka, bijaksana bila kita makin berpaut hanya kepada-Nya. Karena itu, kita tidak perlu ikut-ikutan panik. Masa kini, masa sekarang, dan masa depan kita ada dalam naungan kasih-Nya. Sikap yang bijak adalah mencari Tuhan dan berpaut hanya kepada Dia. Puji Tuhan!



Akhir Zaman adalah Hak Prerogatif Allah, Bukan Urusan Manusia.

_______________
* Penulis dididik dan dibesarkan dalam lingkungan BNKP. Seorang rohaniwan, pengkhotbah, penulis buku, redaktur pelaksana Majalah Rohani Nasional BAHANA. Tinggal di Yogyakarta.